Soal Kekalahan di Final Liga Champions

Soal Kekalahan di Final Liga Champions

Gianluigi Buffon sudah beranjak dari kekalahan Juventus di final Liga Champions. Tapi jika melihatnya kembali, dia merasa ada optimisme terlalu besar saat itu.

Juventus kalah 1-4 dari Real Madrid dalam final Liga Champions di Millennium Stadium, Cardiff, pekan lalu. Itu membuat Bianconeri masih memperpanjang puasa gelar Liga Champions, sejak terakhir kali juara pada 1996 silam.

Juventus sebelumnya sempat cukup percaya diri mengingat mereka sudah pernah tampil di final dua tahun lalu. Kekalahan dari Barcelona saat itu diyakini sudah dipelajari dengan baik oleh para pemain Juventus.

Tapi pada akhirnya Juventus harus takluk dari Real Madrid yang amat matang di Liga Champions. Selain Los Blancos adalah juara musim lalu, mereka sudah memenangi gelar ini 11 kali menuju ke final dan akhirnya meraihnya untuk kali ke-12.

Buffon merasa ada nuansa terlalu percaya diri dan optimisme yang terlalu besar di sekitar Juventus menuju pertandingan tersebut. Padahal dia tahu Real Madrid sangat matang di laga-laga seperti itu.

“Ada terlalu banyak optimisme menuju ke sebuah pertandingan, di mana bahkan pemain Real Madrid paling buruk pun punya trofi-trofi lebih banyak dan penampilan lebih sering di final-final besar ketimbang saya,” katanya kepada Rai Sport dikutip Football Italia.

Kekalahan Juventus sendiri disambut oleh sebagian pendukung klub-klub rival dengan perayaan. Di Naples, kota asal Napoli, bahkan dilaporkan sejumlah suporter menyalakan kembang api dan berkeliling kota mengibarkan bendera Real Madrid.

“Saya bangga menjadi orang yang tak seperti mereka. Di sepakbola ada kemenangan dan kekalahan,” sambung Buffon.

“Saya tetap yakin bahwa Anda belajar jauh lebih banyak dari sebuah kekalahan daripada kesuksesan. Jadi inilah kenapa saya kesulitan menerima sikap dari mereka yang secara otomatis bersorak melawan Juve,” tandasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *